Powered By Blogger

Jumat, 28 Oktober 2011

Kutu Kebul (Bemisia tabaci Genn)

Hama Kutu Kebul (Bemisia tabaci Genn.) Ordo : Hemiptera; Famili : Aleyrodidae; Genus : Bemisia; Species : tabaci. Mound dan Halsey (1978) melaporkan, bahwa Genus Bemisia mempunyai 37 spesies yang diduga berasal dari Asia.

Bemisia tabaci adalah hama yang sangat polifag menyerang berbagai jenis tanaman, antara lain tanaman hias, sayuran, buah-buahan maupun tumbuhan liar.  Tanaman yang menjadi inang utama kutu kebul tercatat sekitar 67 famili yang terdiri atas 600 spesies tanaman, antara lain famili-famili  Asteraceae, Brassicacea, Convolvulaceae, Cucurbitacea, Euphorbiaceae, Fabaceae, Malvaceae, dan Solanaceae (Setiawati et al. 2003).

Kutu Kebul adalah serangga hama yang dapat menyebabkan kerusakan langsung pada tanaman dan sebagai media penular (vektor) penyakit tanaman. Hama ini umumnya menyerang berbagai macam tanaman sayuran. Namun demikian kerusakan yang disebabkan oleh penyakit virus yang ditularkannya sering lebih merugikan dibandingkan dengan kerusakan yang disebabkan oleh hama kutu kebul sendiri. Sebagai contoh penularan virus gemini oleh kutu kebul, dapat menyebabkan kegagalan panen hampir 100%. Persentase infeksi virus gemini berkorelasi positif dengan populasi serangga vektor, terutama serangga yang viruliferus. Selain itu keragaman serangga vektor juga mempengaruhi persentase infeksi. Oleh karena itu pengetahuan tentang species dan biotipe kutu kebul yang bertindak sebagai serangga vektor sangat diperlukan dalam memberikan landasan pengendalian hama/penyakit terpadu pada tanaman sayuran.

Di Indonesia terdapat beberapa spesies kutu kebul, tetapi tidak mudah untuk dibedakan karena kemiripan morfologi dan ukuran yang kecil. Salah satu spesies yang penting dalam menularkan virus gemini adalah Bemisia tabaci. Diduga di Indonesia terdapat dua jenis B. tabaci  yaitu biotipe A dan biotipe B. Pengetahuan mengenai biotipe B. tabaci terkait dengan strategi diagnosis yang dapat dijadikan landasan untuk mempelajari hubungan antara keragaman dengan kemampuan menyebarkan virus gemini.

Morfologi / Bioekologi

Telur berbentuk lonjong agak lengkung seperti pisang, berwarna kuning terang, berukuran panjang antara 0,2 - 0,3 mm. Telur biasanya diletakkan di permukaan bawah daun, pada daun teratas (pucuk). Serangga betina lebih menyukai daun yang telah terinfeksi virus mosaik kuning sebagai tempat untuk meletakkan telurnya daripada daun sehat. Rata-rata banyaknya telur yang diletakkan pada daun yang terserang virus adalah 77 butir, sedangkan pada daun sehat hanya 14 butir. Lama stadium telur rata-rata 5,8 hari.
Nimfa terdiri atas tiga instar. Instar ke - 1 berbentuk bulat telur dan pipih, berwarna kuning kehijauan, dan bertungkai yang berfungsi untuk merangkak. Nimfa instar ke - 2 dan ke - 3 tidak bertungkai, dan selama masa pertumbuhannya hanya melekat pada daun. Stadium nimfa rata-rata 9,2 hari.
Imago atau serangga dewasa tubuhnya berukuran kecil antara (1 - 1,5 mm), berwarna putih, dan sayapnya jernih ditutupi lapisan lilin yang bertepung. Serangga dewasa biasanya berkelompok pada bagian permukaan bawah daun, dan bila tanaman tersentuh biasanya akan berterbangan seperti kabut atau kebul putih. Lama siklus hidup (telur - nimfa - imago) pada tanaman sehat rata-rata 24,7 hari, sedangkan pada tanaman terinfeksi virus mosaik kuning hanya 21,7 hari.

Gejala Serangan
Kerusakan langsung pada tanaman disebabkan oleh imago dan nimfa yang mengisap cairan daun, berupa gejala becak nekrotik pada daun akibat rusaknya sel-sel dan jaringan daun. Ekskresi kutu kebul menghasilkan madu yang merupakan media yang baik untuk tempat tumbuhnya embun jelaga yang berwarna hitam. Hal ini menyebabkan proses fotosintesa tidak berlangsung normal.
Selain kerusakan langsung oleh isapan imago dan nimfa, kutu kebul sangat berbahaya karena dapat bertindak sebagai vektor virus. Yang dapat menyebabkan kehilangan hasil sekitar 20 – 100 %. Sampai saat ini tercatat 60 jenis virus yang ditularkan oleh kutu kebul antara lain : Geminivirus, Closterovirus, Nepovirus, Carlavirus, Potyvirus, Rod-shape DNA Virus.

Tanaman Inang

Kutu kebul merupakan hama yang sangat polifag menyerang berbagai jenis tanaman, antara lain tanaman hias, sayuran, buah-buahan maupun tumbuhan liar atau gulma. Beberapa contoh tanaman budidaya yang menjadi inang kutu kebul antara lain tomat, cabai, kentang, mentimun, terung, kubis, buncis, selada, bunga potong Gerbera, ubi jalar, singkong, kedelai, tembakau, lada, dan tanaman liar yang paling disukai adalah babadotan (Ageratum conyzoides).

Pengendalian
Beberapa cara pengendalian hama kutu kebul yang umum dilakukan yaitu (1) penggunaan tanaman yang toleran/resisten (Greathead 1991), (2) tumpangsari antara tanaman utama dengan tanaman sela (Heather 2002), (3) pemanfaatan musuh alaminya yaitu Encarsia formosa Gahan (Hymenoptera: Aphelinidae), yang merupakan jenis parasitoid T. vaporariorum (Osborne dan Landa 1992). dan (4) pengendalian secara kimia dengan penyemprotan insektisida. Dalam batas-batas tertentu, penggunaan insektisida mungkin praktis meskipun relatif mahal. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa insektisida imidakloprid efektif terhadap kutu kebul (Hoddle et al. 1998, Lin et al. 2005).
Namun yang sangat dikhawatirkan adalah bahaya residu bahan beracun bagi konsumen cabai merah. Untuk itu diperlukan upaya pengendalian yang akrab lingkungan, aman bagi pemakai dan konsumen, relatif murah, tetapi juga efektif terhadap hama B. tabaci.

DAFTAR PUSTAKA
Setiawati. 2003. Pengenalan dan pengendalian hama penting pada Tanaman Cabai Merah. Materi TOT Litkaji PTT Cabai Merah. 26 halaman.